Jumat, 28 Desember 2007

KEADAAN EMOSI REMAJA

Keadaan Emosi Selama Remaja
Secara tradisional masa remaja dianggap sebagai periode “Badai dan tekanan”, suatu masa dimana ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari peruhan fisik dan kelenjar. Pertumbuhan pada tahun-tahun awal masa puber terus berlangsung tetapi berjalan agak lambat. Pertumbuhan yang terjadi terutama bersifat melengkapi pola yang sudah terbentuk pada masa puber. Oleh karena itu perlu dicari keterangan ain yang menjelaskan ketegangan emosi yang sangat khas pada usia ini.
Penjelasan diperoleh dari kondisi social yang mengelilingi remaja masa kini. Adapun meningginya emosi terutama karena anak laki-laki dan perempuan berada dibawah tekanan social dan menghadapi kondisi baru, sedangkan selama masa kanak-kanak ia kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan-keadaan itu (136)
Tidak semua remaja mengalami masa badai dan tekanan. Namun benar juga bila sebagian remaja mengalami ketidak stabilan dari waktu kewaktu sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian diri pada pola perilaku baru dan harapan social yang baru. Misalnya, masalah yang berhubungan dengan percintaan merupakan masalah yang pelik pada periode ini. Bila kisah cinta berjalan lancer, remaja merasa bahagia, tetapi mereka menjadi sedih bila mana percintaan kurang lancer. Demikian pula, menjelang berakhirnya masa sekolah para remaja mulai mengkhawatirkan masa depan mereka.
Meskipun emosi remaja sering kali sangat kuat, tidak terkendali, dan tampaknya irasional, tetapi pada umumnya dari tahun ketahun terjadi perbaikan perilaku emosonal. Menurut gesel dan kawan-kawan, remaja 14 tahun sering kali mengalami mudah marah, mudah dirangsang, dan emosinya cenderung “meledak”, tidak berusaha mengendalikan perasaannya. Sebaliknya, remaja 16 tahun mengatakan bahwa mereka “tidak punya keperihatinan”. Jadi adanya badai dan tekanan dalam periode ini berkurang menjelang berakhirnya awal ramaja (53).
Remaja tidak lagi mengungkapkan amarahnya dan dengan cara gerakan amarah yang meledak-meledak dengan menggerutu, tidak mau berbicara atau dengan suara keras mengeritik orang-orang yang menyebabkan amarah. Remaja juga iri hati terhadap orang yang memiliki benda lebih banyak. Ia tidak mengeluh dan menyesali diri sendiri seperti yang dilakukan anak-anak. Remaja suka bekerja sambilan agar dapat memperoleh uang untuk membeli barang yang diinginkan atau bila perlu berhenti sekolah untuk mendapatkannya.
Kematangan Emosi
Anak laki-laki dan perempuan dikatakan sudah mencapai kematangan emosi bila pada masa akhir remaja “tidak meledakkan” emosinya dihadapan orang lain melainkan menunggu saat dan tempat yang lebih tepat untuk mengungkapkan emosinya dengan cara-cara yang lebih dapat diterima emosinya.
Akhirnya remaja yang emosinya matang memberikan emosional yang stabil, tidak berubah-ubah dari satu emosi atau suasana hati kesuasana hati yang lain seperti dalam periode sebelumnya.
Untuk mencapai kematangan emosional remaja harus belajar memperoleh gambaran tentang situasi-situasi yang dapat menimbulkan reaksi emosional. Adapun caranya adalah dengan membicarakan berbagai masalah peribadinya dengan orang lain. Keterbukaan, perasaan dan masalah peribadi dipengaruhi sebagian oleh rasa aman dalam hubungan social dan sebagian oleh tingkat kesukaanya. Pada “orang sasaran”, (yaitu orang yang kepadanya remaja mau mengutarakan berbagai kesulitannya, dan oleh tingkat penerimaan orang sasaran itu.
Bila remaja ingin mencapai kematangan emosi ia juga harus belajar menggunakan kataris emosi untuk menyalurkan emosinya. Adapun cara yang dapat dilakukan adalah latihan fisik yang berat, bermain atau bekerja, tertawa atau menangis. Meskipun cara-cara ini dapat menyalurkan gejolak emosi yang timbul karena usaha pengendalian ungkapan emosi, namun sikap social terhadap perilaku menangis adalah kurang baik dibandingkan dengan sikap social terhadap perilaku tertawa, kecuali bila tertawa hanya dilakukan bilamana memperoleh dukungan social.
Kecerdasan emosional adalah kecerdasan yang menggambarkan suatu keadaan dimana kita suka melihat kedalam diri kita sendiri sebuah insting yang membuat kita terus menerus mempertanyakan pengetahuan mengenai diri kita sendiri. Kita terus menganalisis kekuatan dan kelemahan kita dan menetapkan tujuan dengan melakukan sesuatu untuk memperbaiki diri kita mungkin mencatat dalam notes atau buku harian mengenai pengalaman suasana hati dan pikiran-pikiran kita. Kita menjelajahi situasi apa yang membuat kita senang dan apa ang membuat kita tidak senang dan berusaha bertindak. Kita memahami dan mengelola emosi kita sendiri dengan baik. Kita suka menyisihkan waktu untuk berfikir dan merenung.
Pentingnya Pengetahuan Psikologi Pendidikan Bagi Guru
Guru dan tenaga kependidikan lainnya dalam melaksanakan tugas pembelajaran ternyata perlu memiliki pengetahuan psikologi.Karena psikologi mempersoalkan aktivitas manusia, baik yang dapat diamati, maupun yang tidak, secara umum aktifitas-aktifitas dan penghayatan itu dapat dicari hukum-hukum dan psikologis yang mendasarinya.Bagi para pendidik penting sekali mengetahui hukum_hukum tersebut sehingga dengan demikian dapat membantu guru dan tenaga kependidikan lainya untuk memahami tingkah laku belajar anak didiknya lebih baik.Kemampuan untuk memahami tingkah laku belajar anak didiknya akan memberi penjelasan bahwa anak didiknya dalam keadaan belajar dengan baik atau tidak, pemahaman ini akan dapat mengukur kemampuan belajar dan kemampuan menerima materi pelajaran bagi para siswanya.
Sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa, psikologi ilmu pengetahuan masih muda usianya, tentu psikologi pendidkan lebih muda lagi, artinya psikologi pendidikan masih menghadapi berbagai problematika dan perkembangan sebagai suatu ilmu pengetahuan, dalam perkembangan ini masih banyak hal -hal yang dapat dilengkapi sebagai ilmu pengetahuan yang dinamis. Namun pada prinsipnya psikologi pendidikan alat yang cukup penting untuk memahami tingkah laku belajar anak. Dalam hal ini setiap guru harus senantiasa memahami dan mengikuti perkembangan psikologi pendidikan, karena dengan model ini para guru dapat tertolong memahami pertumbuhan dan perkembangan belajar dan peserta didik, dan para guru dapat meningkatkan kemampuan belajar peserta didiknya sesuai potensi yang dimiliki masing- masing. Psikologi pendidikan ini sebagai alat bagi guru untuk mengendalikan dirinya, dan juga memberi bantuan belajar kepada peserta didiknya dalam kegiatan pembelajaran.
BAB III
PEMBAHASAN
Belajar Dengan Perasaan
Didalam dunia pendidikan untuk membentuk siswa sebagai pribadi yang bagus dan sebagai manusia pembelajar seutuhnya, maka sebagai seorang pendidik kita harus bisa menggunakan ranah kecerdasan dengan baik diantaranya, kognitif, afektif dan ranah psikomotorik.
Kenyataan yang berkembang saat ini adalah, betapa banyak siswa yang lulus dari sekolah atupun mahasiswa yang lulus dari perguruan tinggi mereka secara keilmuan bisa diandalkan, IQ mereka tinggi namun mereka banyak yang stress, kaget sosial setelah berada di masyarakat, hal ini disebabkan oleh apa? Tak lain jawabanya mereka tidak mempunyai kecerdasan emosi yang seharusnya berkembang ketika mereka masih menuntut ilmu di lembaga pendidikan.
Survey telah membuktikan bahwasanya IQ seseorang menjadi faktor keberhasilanya itu hanya berperan maksimal 40%, secara umum antara 6-20%, sedangkan selebihnya adalah EQ mereka yang sangat mempengaruhi keberhasilanya.
Oleh karena itu, sebagai seorang guru wajib kita bagaimana untuk mengetahui keadaan emosi para siswa sebelum memulai pembelajaranataupun dalam kondisi apapun sesuai dengan perkembangan mereka, karena emosi seseorang selalu berkembang sesuai dengan umur mereka, begitu juga yang terjadi pada remaja.
Beberapa saran dibawah ini menganjurkan bagi seorang guru bagaimana dia harus menciptakan dunia pembelajaran dengan penuh perasaan diantaranya adalah sebagai berikut gambaran besarnya:
Perhatikan secara seksama perasaan murid sebelum memulai pelajaran, situasi emosional dapat memicu sikap aktif atau pasif, apakah murud berada dalam kerangka pikir yang guru inginkan? Menjalani hubungan emosi dengan materi pelajaran merupakan cara utama untuk meyampaikan makna materi pelajaran itu, perasaan yang terbangun juga akan mrndorong perhatian dan mutivasi, akhir kata proses belajar akan menjadi lebih berkesan jika disertai dengan perasaan yang kuat.
Kebutuhan emosi dalam pembelajaran sangatlah penting, misalnya anak dalam keadaan stress tidak bisa menerima pelajaran dengan baik karena dia masih merasa tertekan, seorang anak atau siswa dalam belajar mereka mempunyai kebutuhan tertentu yang menyangkut kebutuhan emosional seperti yang dikemukakan oleh ahli psikologi Abraha Maslow, menurut pemikiran Maslow seseorang itu membutuhkan hal-hal sebagai berikut yakni, kebutuhan estetis, kebutuhan untuk mengetahui dan mengerti, kebutuhan untuk aktualisasi diri, kebutuhan memperoleh penghargaan orang, kebutuhan mendapat kasih sayang dan memiliki, kebutuhan rasa aman, kebutuhan fisiologis, setidaknya itulah kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan dalam menempuh belajar.
Upaya Mengembangkan Emosi Remaja Dan Implikasinya Bagi Pendidikan
Intervensi pendidikan untuk mengembangkan emosi remaja agar dapat mengembangan kecerdasa emosional, salah satu diantaranya adalah dengan mengunakan intervensi yang ditemukan oleh WT. Grant Consurtium tentang “Unsur-unsur aktif program pencegahan” yaitu sebagai berikut :
Pengembangan keterampilan emosi
Cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan keterampilan emosinal individu adalah :
Mengidentifikasi dan memberi nama atau label perasaan.
Mengungkapkan perasaan.
Menilai intensitas perasaan.
Mengelola perasaan.
Menunda pemuasan.
Mengendalikan dorongan hati.
Mengurangi stress.
Memehami perbedaan antara tindakan dan perasaan.
pengembangsn keterampilan kognitif
cara yang dapat dilakukan untuk mengembangkan keterampilan kognitif adalah sebagai berikut:
Belajar melakukan dialog untuk mengatasi masalah atau memperkuat perilaku diri sendiri.
Belajar membaca dan menafsirkan isyarat-isyarat sosial
Belajar mengunakan langkah-langkah penyelesaian masalah dan pengambilan keputusan.
Belajar memahami sudut pandang orang lain (empati)
Belajar memahami soapan santun.
Belajar bersikap positif terhadap kehidupan.
Belajar mengembangkan kesadaran diri.
Pengembangan keterampilan perilaku
Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah :
Mempelajari keterampilan komonikasi nonverbal
Mempelajari keterampilan verbal
Cara lain yang dapat digunakan sebagai intervensi edukatif untuk mengembangkan emosi remaja agar dapat memiliki kecerdasan emosional adalah dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang didalamnya terdapat materi yang dikembangkan oleh Daniel Goleman(1995) yang kemudian diberi nama Self Science Curriculum sebagaimana dipaparkan sebagai berikut :
Belajar mengembangkan kesadaran diri
Belajar mengambil keputusan pribadi
Belajar mengelola perasaan
Belajar menangani stress
Belajar berempati
Belajar berkomonikasi
Belajar membuka diri
Belajar mengembangkan pemahaman
Belajar menerima diri sendiri
Belajar mengembangkan tanggung jawab pribadi
Belajar mengembangkan ketegasan
Belajar dinamika kelompok
Belajar menyelesaikan konflik
Di akhir pembahasan ini ditegaskan bahwasanya betapa pentingnya pengembangan emosi itu dilakukan dalam dunia pembelajaran, dan sebagai seorang guru wajib untuk mengetahui betapa pentingnya mengetahiu keadaan emosi peserta didik, agar proses belajar mengajar bisa berjalan optimal dan menghasilkan lulusan yang bisa diandalkan.

1 komentar:

hay................. mengatakan...

saya remaja usia 16th........
tlog bntu saya untuk mengetahui jati diri saya.....
terima kasih